Anak Sopir Ambulans Desa Mengaku Ditolak Rawat Inap, RS Helsa Cikampek Disorot


KARAWANG, NOTICE – Seorang remaja berinisial IR (14), warga Desa Cikampek Timur, Kabupaten Karawang, diduga tidak mendapatkan pelayanan rawat inap di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Helsa Cikampek pada Minggu (19/4). Peristiwa ini menjadi viral di media sosial setelah ayah korban, Bina Sandra, menyampaikan keluhannya secara terbuka.

Bina Sandra, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir ambulans desa sekaligus staf di Desa Cikampek Timur, mengaku panik saat anaknya tiba-tiba mengeluh sakit perut hebat disertai muntah-muntah dan kondisi tubuh yang semakin melemah. Ia pun berupaya mencari pertolongan medis secepat mungkin.

“Anak saya sakit perut, muntah-muntah, lemas. Saya bawa ke fasilitas kesehatan pertama, yaitu klinik, tapi tutup. Jadi saya langsung inisiatif membawa ke rumah sakit terdekat, yaitu RS Helsa,” ujar Bina saat dikonfirmasi.

Namun setibanya di rumah sakit, Bina mengaku tidak mendapatkan layanan rawat inap seperti yang diharapkannya. Ia menyebut, setelah dilakukan pemeriksaan awal, pihak rumah sakit menyampaikan bahwa ruang perawatan sedang penuh.

Selain itu, menurut Bina, dokter yang menangani juga menyatakan bahwa kondisi anaknya tidak termasuk kategori gawat darurat. Dengan demikian, IR disarankan untuk menjalani pengobatan secara rawat jalan dan tidak dapat menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan.

“Dokter bilang tidak bisa pakai BPJS karena tidak termasuk gawat darurat. Disarankan rawat jalan sebagai pasien umum,” kata Bina.

Ia mengaku kecewa terhadap pelayanan yang diterima, terlebih karena rumah sakit tersebut merupakan fasilitas kesehatan terdekat dari tempat tinggalnya. Menurutnya, kondisi sang anak seharusnya bisa dipertimbangkan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut melalui rawat inap.

“Saya kecewa dengan pelayanan rumah sakit. Ini rumah sakit terdekat, tapi pelayanannya seperti itu,” tuturnya.

Bina juga membandingkan dengan pengalamannya selama ini saat mendampingi warga lain sebagai sopir ambulans desa. Ia menyebut, dengan keluhan serupa, pasien biasanya mendapatkan rekomendasi untuk dirawat inap.

“Selama saya sering mengantar warga, dengan kondisi seperti itu biasanya disarankan rawat inap. Tapi ini malah diminta jadi pasien umum,” ujarnya.

Ia pun menilai adanya kesan bahwa pasien pengguna BPJS kurang diprioritaskan dibandingkan pasien umum. Hal ini, menurutnya, menjadi perhatian serius karena menyangkut pelayanan dasar kesehatan bagi masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak RS Helsa Cikampek belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi kejadian maupun klarifikasi atas keluhan yang disampaikan oleh keluarga pasien.

Laporan : REDAKSI


Lebih baru Lebih lama